Allah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan berbagai cara dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta dialog penuh hikmah. Semua metode ini memiliki efek yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus bersemangat menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan dialog yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)
Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita akan mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang dialog dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini memiliki harta melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh harta kekayaannya datang atas sebabnya, bukan karena pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi dialog dengan seorang temannya lelaki mukmin yang membahas nikmat dunia yang telah Allah ﷻ berikan kepada lelaki kafir ini.
Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajir
Allah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dahulu betapa kaya dan nikmatnya harta kekayaan lelaki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)
كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا
“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)
Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.
Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,
وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,
تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ
“Hal itu, demi Allah, adalah hal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya harta dan pengikut yang kuat.” [1]
Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita dunia semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika ia terus berharap memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak akan membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya akan disebutkan di ayat selanjutnya.
Takjub dengan dunia dan ketertipuan
Akan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini karena dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,
وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا
“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah lelaki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di dunia ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua akan dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.
Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan ia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,
وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ
“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya keyakinan terhadap Allah, (3) takjub dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”
Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita harus menguatkan empat hal yang menjadi kebalikan dari sebab lelaki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:
1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;
2) Menguatkan keyakinan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;
3) Zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;
4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari kiamat akan tegak serta hisabnya akan berat.
Allah ﷻ berfirman,
وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا
“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)
Lelaki kafir itu mengira bahwa hari kiamat tidak benar-benar terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah anugerah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan ia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya karena telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.
Keyakinan bahwa ia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ benar-benar yang memberikan nikmat, serta keyakinan seandainya hari akhir benar-benar ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap hal yang lebih fundamental lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari akhirat dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun hal ini benar, ia pun berkeyakinan bahwa ia akan mendapatkan kedudukan yang baik atau yang lebih baik karena Allah ﷻ telah memuliakannya.
Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,
وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا
“Seandainya benar ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya nanti di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, karena sesungguhnya aku adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan kalau bukan karena kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak akan memberikan semua ini kepadaku.”
Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan dunia seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,
وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى
“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)
أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا
“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77)
Maka, sikap hal ini bukan lagi hal yang aneh untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak akan pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia karena nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di dunia yang fana ini.
Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di dunia ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membuat seseorang terus tersungkur ke dalam jurang kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا
“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)
Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan hal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.
Kisah ini juga mengandung pelajaran bagaimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi hal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh karena itu, penting sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode dialog yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.
Luasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:
Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;
Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;
Berdebat dalam konteks beradu argumen.
Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.
Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.
Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafir
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?
Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.
لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)
Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)
Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.
Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemanan
Pelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.
Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.
Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.
Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,
ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)
Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)
Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.
Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalim
Setelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.
فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا
“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا
“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)
Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.
Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,
أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال
“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”
Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)
Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.