Pernahkah antum merasa insecure dengan ibadah orang lain? Melihat ada yang khatam Quran 5 hari sekali, ada yang puasa Daud tanpa putus, sementara kita? Juz Amma saja terbata-bata, puasa sunnah pun sering bolong karena kesibukan kerja. Rasanya kok berat sekali mengejar ketertinggalan amal dari mereka yang fokus penuh di masjid. Tapi, tahukah antum bahwa Allah itu Maha Adil? Allah membagi pintu-pintu surga sebagaimana Allah membagi rezeki. Tidak semua orang harus masuk dari pintu yang sama. Ada satu jalur khusus, sebuah "VIP Access" yang Allah sediakan bagi mereka yang sibuk berdagang, berbisnis, dan mengelola harta. Jalur ini sunyi, tapi dampaknya abadi. Mari kita bedah bagaimana menjadikan kesibukan bisnis antum sebagai tiket emas menuju surga, merujuk pada kajian mendalam dari Ustadz Ammi Nur Baits. Lanjut baca kebawah.
JANGAN PAKSAKAN DIRI JADI ORANG LAIN
Seringkali kita terjebak berpikir bahwa "orang sholeh" itu cetakannya cuma satu: yang tinggal di masjid 24 jam. Padahal, para ulama mengajarkan konsep indah: Allah membagi amal sebagaimana Allah membagi rezeki. Ada orang yang Allah mudahkan rezekinya di shalat (ahli shalat), tapi berat baginya puasa. Ada yang Allah mudahkan di puasa (ahli puasa), tapi berat baginya sedekah. Ada kaidah emas: Ma la yudraku kulluh, la yutraku julluh (Apa yang tidak bisa dicapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya). Jika antum tidak sanggup menjadi ahli puasa atau ahli jihad fisik, jangan menyerah! Temukan di mana Allah mudahkan jalan antum. Bagi seorang pengusaha, "passion" ibadahnya mungkin bukan di lapar dahaga puasa, tapi di kedermawanan. Di situlah pintu surga antum terbuka lebar. Fokuslah di sana, jadilah ahli di bidang itu!
8 PINTU SURGA DAN PANGGILAN KHUSUS
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa surga memiliki delapan pintu. Yang menakjubkan, setiap ahli amal akan dipanggil dari pintu keahliannya. مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ "Barangsiapa yang termasuk ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang termasuk ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad." (HR. Bukhari & Muslim). Lalu ada pintu Ar-Rayyan untuk ahli puasa, dan ada pintu Ash-Shadaqah untuk mereka yang gemar berinfak. Bayangkan antum sedang sibuk mengurus bisnis, lelah memikirkan strategi, tapi di akhirat nanti nama antum menggema dipanggil dari Pintu Sedekah karena harta yang antum kelola menjadi jalan kehidupan bagi banyak orang. Ini bukan khayalan, ini janji Nabi bagi mereka yang serius mengambil peran.
DUNIA HANYA MILIK 4 TIPE MANUSIA
Nabi ﷺ memetakan manusia dalam urusan dunia menjadi empat golongan. Dan golongan pertama adalah level tertinggi, "The Ultimate Goal" bagi setiap Muslim. عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ "Seorang hamba yang Allah berikan harta dan ilmu, lalu ia gunakan hartanya untuk bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturahmi, dan ia mengetahui hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan yang paling utama." (HR. Tirmidzi). Perhatikan syaratnya: Harta + Ilmu. Tanpa ilmu, harta jadi bencana (seperti Qarun). Tanpa harta, ilmu tidak punya daya dukung finansial. Maka, menjadi "Rich & Religious" adalah kombinasi maut yang membuat iri penduduk langit.
NIAT BAIK KAUM MISKIN MENYAINGI MILIARDER
Lalu bagaimana dengan golongan kedua? Ini kabar gembira bagi antum yang mungkin bisnisnya belum besar atau sedang merintis. Nabi menyebutkan golongan kedua: Orang yang diberi ilmu tapi tidak diberi harta. Namun, ia punya niat yang jujur dan berkata: "Seandainya aku punya harta seperti si Fulan (tipe 1), aku pasti akan beramal seperti dia." Apa kata Nabi? Fahuma fi al-ajri sawa (Pahala keduanya SAMA).
Masyaallah! Niat yang tulus dan jujur bisa menyetarakan rekening pahala antum dengan para konglomerat yang dermawan. Tapi ingat, niat ini harus jujur (shadiq). Allah Maha Tahu apakah itu niat tulus atau sekedar angan-angan kosong. Maka, tanamkan mental dermawan itu sejak sekarang, berapapun isi dompet kita.
KAYA ITU BARU POTENSI, BUKAN PRESTASI
Mari luruskan mindset. Menjadi kaya itu takdir dan ujian, ia baru sekedar Potensi. Belum jadi Prestasi. Sama seperti "Pintar". Pintar itu potensi. Tapi jika kepintaran itu hanya dipakai untuk membodohi orang, itu bukan prestasi. Begitu juga kekayaan. Jika antum punya saldo miliaran tapi hanya menumpuk di bank atau dipakai foya-foya pribadi, itu belum prestasi di mata Allah. Prestasi sejati adalah Manfaat. Sebagaimana sabda Nabi: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." (HR. Ahmad).
Jadi, saat saldo antum bertambah, jangan tanya "Beli apa lagi ya?", tapi tanyalah "Siapa lagi yang bisa saya bantu?". Di situlah potensi berubah menjadi tiket surga.
KISAH SA'AD BIN UBADAH: ORANG KAYA YANG TAKUT MISKIN
Mari belajar dari Crazy Rich zaman Nabi, Sa'ad bin Ubadah radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah pemimpin suku Khazraj yang kedermawanannya melegenda. Doa beliau sangat unik: "Ya Allah, aku tidak layak menjadi miskin, dan aku tidak mau jadi miskin." Sombong? Tidak! Beliau berdoa begitu karena punya misi: melayani Rasulullah dan memberi makan fakir miskin. Setiap malam, saat sahabat lain hanya sanggup membawa pulang 1-2 tamu Ashabuffusah (ahli sufah yang tinggal di masjid), Sa'ad bin Ubadah membawa pulang 80 orang untuk diberi makan di rumahnya! Bayangkan dapurnya, bayangkan logistiknya. Beliau kaya bukan untuk menumpuk aset, tapi agar dapur umat tetap ngebul. Inilah mental pengusaha surga.
LAITS BIN SA'AD: KONGLEMERAT TANPA ZAKAT
Kisah ini mungkin terdengar aneh. Imam Laits bin Sa'ad adalah ulama besar Mesir yang juga pengusaha sukses. Income tahunan beliau mencapai 20.000 Dinar (setara puluhan kilogram emas, nilainya miliaran rupiah hari ini). Tapi yang mengejutkan, beliau berkata: "Aku tidak pernah wajib bayar zakat mal seumur hidupku." Apakah beliau pelit? Justru sebaliknya! Beliau tidak pernah bayar zakat karena hartanya tidak pernah tersimpan sampai satu tahun (haul). Setiap harta masuk, langsung beliau bagikan habis-habisan sampai saldo di bawah nisab. Beliau pernah memberi hadiah kepada seorang ulama 1.000 Dinar (sekitar 4,25 kg emas) hanya dalam sekali duduk. Level kedermawanannya "ugal-ugalan", memastikan harta itu sampai ke akhirat lebih dulu daripada dirinya.
ABDULLAH BIN MUBARAK: HAJI SEKAMPUNG GRATIS
Tokoh ketiga adalah Abdullah bin Mubarak, Amirul Mukminin fil Hadits sekaligus saudagar kaya raya. Suatu kali, beliau mengajak penduduk kampungnya berangkat Haji. "Siapa yang mau ikut haji? Setorkan uang bekal kalian padaku." Orang-orang pun menyetor uang mereka. Uang itu dimasukkan peti, dikunci, dan ditinggal di rumah. Sepanjang perjalanan dari Khurasan ke Mekkah, Abdullah bin Mubarak membiayai SEMUA kebutuhan mereka: makan paling enak, kendaraan paling nyaman, bahkan dibelikan oleh-oleh. Saat pulang ke kampung halaman, beliau mengumpulkan mereka, membuka peti tadi, dan mengembalikan uang mereka utuh! "Ini uang kalian, ambil kembali." Ternyata beliau membiayai haji mereka 100% dari kantong pribadinya. Inilah level "Sultan" yang sesungguhnya.
TRANSAKSI DENGAN ALLAH, BUKAN MANUSIA
Apa rahasia mereka bisa seikhlas itu? Kuncinya satu: Mereka sadar sedang bertransaksi dengan Allah, bukan dengan manusia. Saat antum memberi Rp 500.000 ke fakir miskin, secara matematika uang antum berkurang. Uang itu mungkin habis dipakai makan si miskin dalam 2-3 hari. Tapi di sisi Allah? Pahala itu abadi, kekal selamanya. Jadi, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Si Pemberi! Si Penerima hanya dapat kenikmatan sesaat (makan), si Pemberi dapat aset properti di Surga yang tak ternilai. Jika antum paham konsep ini, antum tidak akan menunggu ucapan "Terima Kasih". Bahkan jika orang yang dibantu malah memaki, antum tetap senyum. Kenapa? Karena urusan antum dengan Allah sudah "Deal", perilaku manusia tidak membatalkan transfer pahala dari Allah.
JANGAN BATALKAN PAHALAMU DENGAN "AL-MANN"
Tantangan terbesar pengusaha yang dermawan adalah Ego. Merasa berjasa, merasa jadi pahlawan, lalu menuntut penghormatan.
Allah memperingatkan keras dalam Al-Quran: لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ "Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." (QS. Al-Baqarah: 264).
Al-Mann itu mengungkit-ungkit pemberian. "Kalau bukan karena saya, kamu nggak bisa makan!"
Al-Adza itu menyakiti hati saat memberi. Melempar uangnya, atau memberi sambil menghina. Hati-hati, transferan pahala miliaran bisa "Void/Gagal" seketika hanya karena satu kalimat sombong yang meluncur dari lisan kita.
MENTALITAS "WE FEED YOU FOR ALLAH"
Mari copy-paste mentalitas penghuni surga yang diabadikan dalam Surat Al-Insan ayat 9: إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
Perhatikan: Laa Syukura. Bahkan ucapan terima kasih pun mereka tidak harapkan. Ini level keikhlasan tertinggi. Mereka memberi untuk "membuang" beban hisab harta, bukan untuk "membeli" loyalitas manusia. Saat antum bisa memberi tanpa toleh kanan-kiri, tanpa peduli diapresiasi atau dicaci, saat itulah antum sudah memegang kunci pintu surga jalur bisnis.
"Nanti deh kalau omzet sudah 1 Miliar baru saya sedekah." Jangan! Setan sangat pintar menunda amal baik kita. Ingat hadits tentang manusia yang menyesal: Nabi menceritakan ada orang yang diberi ilmu tapi tidak diberi harta, lalu ia berkata buruk: "Kalau aku punya uang seperti si Fulan (yang ahli maksiat), aku akan foya-foya seperti dia." Niat buruk ini pun dicatat dosa yang sama! Maka mulailah dari sekarang. Latih otot kedermawanan itu dari nominal kecil. Karena jika saat miskin kita pelit, saat kaya kita akan menjadi Qarun. Kedermawanan itu karakter, bukan nominal. Karakter itu dibentuk saat sempit, bukan saat lapang saja.
BISNIS ADALAH MEDAN JIHADMU
Bagi antum yang setiap hari bergulat dengan invoice, target penjualan, dan komplain pelanggan, ubah niat antum sekarang. Jadikan kantor antum sebagai sajadah panjang. Jadikan keuntungan bisnis sebagai amunisi umat. Biarkan orang lain sibuk dengan puasa sunnahnya (dan itu mulia), tapi antum sibuk memastikan tidak ada tetangga yang kelaparan, tidak ada masjid yang terbengkalai, dan tidak ada anak yatim yang putus sekolah. Itu adalah jihad antum. Itu adalah jalan tol antum menuju surga. Jangan minder, karena Islam butuh Abu Bakar yang kaya raya sama seperti Islam butuh Abu Hurairah yang ahli ilmu. Peran kita berbeda, tapi tujuannya satu: Ridha Allah.
SIAPKAN BEKAL SEBELUM PULANG
Ramadhan sebentar lagi tiba. Para ulama terdahulu berdoa 6 bulan sebelumnya agar disampaikan ke Ramadhan. Ini momen tepat untuk membersihkan harta dan jiwa. Beban dosa itu seperti ransel berat di punggung pendaki. Semakin banyak dosa, semakin berat perjalanan menuju Allah. Bersihkan dengan tobat, ringankan dengan sedekah. Semoga Allah memberkahi setiap rupiah yang antum cari, dan menjadikannya saksi pembela di Yaumil Hisab kelak.
Punya teman pengusaha yang butuh nasihat ini?
Silakan Share/Repost. Semoga jadi amal jariyah buat kita semua. Barakallahu fiikum.
Sumber Kajian: Ustadz Ammi Nur Baits - Masuk Syurga Jalur Bisnis.